BIRU PERSIBKU

Desember 9, 2007

Biru Persibku


BOROBUDUR

Desember 5, 2007

< img src=’Borobudur


JEJAK LANGKAH VIKING DISTRIK BATUJAJAR

Desember 5, 2007

VIKING PERSIB sebagai komunitas pencinta PERSIB akan selalu bercermin pada perjalanan Persib Bandung dalam mengarungi Samudra kompetisi sepakbola Indonesia, baik pada saat Kompetisi Perserikatan maupun pada saat Liga Indonesia. Berawal dari perjalanan prestasi “Sang Maung Bandung” yang begitu membanggakan dan menggetarkan dunia persepakbolaan Indonesia, khususnya pada dekade 1985 hingga dekade 1995, dimana Persib mampu memberikan suatu kebanggaan kepada para pencintanya, dengan tampil lima kali berturut-turut pada partai final Piala Presiden (Perserikatan kala itu), dan tiga kali diantaranya Persib berhasil tampil sebagai “Kampioen”, yang kemudian berlanjut dengan merebut gelar “Juara” untuk pertama kalinya pada kompetisi format baru, yaitu Liga Indonesia. “Totalitas” yang telah diberikan oleh Persib kepada para pencintanya, kemudian dijawab kembali dengan “Totalitas” oleh sekelompok Pendukung Fanatik Persib yang kala itu sering menempati Tribun Selatan Stadion Siliwangi. Tercetuslah ide untuk membentuk sebuah kelompok Bobotoh demi melestarikan dan menjaga kebesaran nama Persib, disamping untuk menyatukan aspirasi serta kesamaan rasa cinta kepada “Sang Idola” Persib Bandung.


Berdasarakan historisnya VIKING PERSIB DISTRIK BATUJAJAR, melalui beberapa kali pertemuan yang cukup alot dan memakan waktu hampir 3 bulan , akhirnya terbentuklah sebuah kesepakatan bersama. Tepatnya pada Mulai Desember2001 sampai akhirnya pada tanggal 30 maret 2002 , disebuah rumah di daerah Pasar Batujajar (dekat Kantor Pos Giro Batujajar) terjadi sebuah kesamaan kata antara bobotoh Persib yang berdomisili di wilayah Batujajar, Citapen, Cililin, Cimareme Padalarang dan sekitarnya untuk bergabung dalam satu wadah yakni ….. VIKING PERSIB CLUB DISTRIK Batujajar, yang tepatnya diresmikan pada tanggal 30 Maret 2002, beberapa minggu setelah tragedi berdarah kuis siap berani di Indosiar . Adapun pelopor dari pendiriannya antara lain ; Erfan Hariawan (Ifin), Eriawan Kamil (Koek), Asep Pakel Sutisna, Ramdan Hadian, Heri Bram, Nandar Kumis dan dengan mendapatkan dukungan dari berbagai macam kelompok pecinta Persib yang ada di wilayah Batujajar hadiri oleh beberapa Pioner Viking Persib Club lainnya, yang hingga kini masih tetap aktif dalam kepengurusan Viking Persib Club. Alasan bergabungnya kelompok bobotoh batujajar dengan VIKING PERSIB CLUB ini dikarenakan adanya persamaan idealisme yakni kecintaan terhadap Persib.


Viking Persib Club adalah sebuah kelompok bukanlah organisasi atau fans club dengan segala aturan-aturan formal yang mengikatnya. Setiap anggota atau Vikers adalah bagian dari sebuah “Keluarga”, …. Dan layaknya sebuah Keluarga, keberagaman sifat dan tingkah laku yang berada didalamnya adalah merupakan sesuatu hal yang lumrah, dan Viking akan selalu berusaha untuk mengakomodir keberagaman tersebut. Kelompok Suporter dapat dikatakan sebagai kelompok sosial, karena didalamnya terdapat sekumpulan individu yang berinteraksi secara bersama-sama serta memiliki kesadaran keanggotaan yang didasarkan oleh kehendak dan prilaku yang disepakati. Seperti kebanyakan kelompok-kelompok Bobotoh lainnya yang turut terlahir sama seperti halnya Viking Persib Club, yaitu secara Grass Root (dari arus bawah), maka Viking Persib Club memiliki cara atau cirri khas dalam menyikapi setiap permasalahan anggotanya. Hubungan pertemanan dan kekeluargaan yang tulus, erat tanpa pamrih serta rasa persaudaraan yang tinggi menjadi modal yang kuat bagi VIKING untuk terus eksis selama beberapa dekade.

Keanggotaan Viking Persib Club distrik Batujajar semakin menyebar wilayah cakupannya,tidak hanya boboth yang tinggal di wilayah kecamatan Batujajar akan tetapi sudah meluas ke wilayah kecamatan – kecamatan lain diantaranya Citapen, Cihampelas, Saar, Cililin, Pasir Meong, Cijenuk, Gunung HAlu, PAdalarang, Ciampel, Cimareme, Cikandang, Soreang bahkan ada bebarapa anggota yang berasal dari luar kota seperti tanggerang, Pekanbaru dan Padang.


Dilihat dari segi kepemimpinan dan kepengurusan, dilihat sejak awal berdirinya hingga saat ini, ….. Viking Persib Club Distri Batujajar ini diketuai oleh Erfan Hariawan atau lebih dikenal di kalangan supporter dengan panggilan akrab Ifin, dengan dengan didukung oleh Eriawan Kamil dan Asep Pakel sebagai Trisula Kepemimpinan yang menjalankan roda organisasi Viking Batujajar ini.


SEJARAH PERSIB MAUNG BANDUNG

Desember 4, 2007

Sebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetball Bond ( BIVB ) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.

Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung ( PSIB ) dan National Voetball Bond ( NVB ).

Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub- klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.

Di Bandung pun saat itu pun sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken ( VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan “ kelas dua “. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan dipinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom.

Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan dipusat kota, UNI dan SIDOLIG.

Persib memenangkan “ perang dingin “ dan menjadi perkumpulan sepakbola satu- satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub- klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNU dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG ( kini Stadion Persib ), dan Lapangan SPARTA ( kini Stadion Siliwangi ). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.

Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga diseluruh tanah air. Dengna sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.

Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.

Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar diberbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta.

Pada masa itu prajurit- prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya.
Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda ( NICA ) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.

Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950- an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953- 1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah- pindah secretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangunkan Sekretariat Persib di Cilentah.

Awal Persib memiliki gedung yang kini berada di Jalan Gurame, adalah upaya R. Soendoro, seorang overste replubiken yang baru keluar dari LP Kebonwaru pada tahun 1949. Pada waktu itu, melalui kepengurusan yang dipimpinnya, Soendoro menghadap kepada R. Enoch yang kebetulan kawan baiknya. Dari hasil pembicaraan, Walikota mendukung dan memberikan sebidang tanah di Jalan Gurame sekarang ini.

Pada saat itu, karena kondisi keuangan yang memprihatinkan, Persib tidak memiliki dana untuk membangun gedung, Soendoro kembali menemui Walikota dan menyatakan, “ Taneuh puguh deui, tapi rapat ditiungan ku langit biru,” kata Soendoro.
Akhirnya Enoch juga membantu membangun gedung yang kemudian mengalami dua kali renovasi. Kiprah Soendoro sendiri didunia sepak bola diteruskan putranya, antara lain, Soenarto, Soenaryono, Soenarhadi, Risnandar, dan Giantoro serta cucunya Hari Susanto.

Dalam menjalankan roda organisasi beberapa nama yang juga berperan dalam berputarnya roda organisasi Persib adalah Mang Andun dan Mang Andi. Kedua kakak beradik ini adalah orang lapangan Persib. Tugas keduanya, sekarang ini dilanjutkan oleh putra dan menantunya, Endang dan Ayi sejak 90-an. Selain juga staf administrasi Turahman.

Renovasi pertama dilakukan pad kepemimpinan Kol. CPM Adella ( 1953- 1963 ). Kini sekretariat Persib di Jalan Gurame itu sudah cukup representatif, apalagi setelah Ketua Umum H. Wahyu Hamijaya ( 1994- 1998 ) merenovasi gedung tersebut sehingga menjadi kantor yang memadai untuk mewadahi berbagai kegiatan kesekretariatan Persib.

Kemampuan Persib menjaga nilai- nilai dan tradisinya serta menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tentu tidak lepas dari figur Ketua Umum bukan hanya figur yang berkemampuan mengelola organisasi dalam artian agar organisasi itu terus hidup, melainkan juga figur yang mampu menggali potensi dan mengakomodasikan kekuatan yang ada, sehingga kiprah Persib dalam kancah sepakbola nasional terus berlangsung lewat berbagai karya Persib. Persib sampai pada bentuknya yang sekarang ini tentunya tidak lepas dari figur- figur Ketua Umum yang pernah dimilikinya. Ibarat membuat bangunan, dari satu Ketua Umum ke Ketua Umum yang lain, selalu sambung- menyambung sehingga terbentuk sebuah bangunan yang bernama Persib seperti yang kita kenal sekarang ini.

Berikut Ketua Umum Persib dari masa ke masa :
1. Anwar St. Paamoentjak ( 1933 )
2. R. Sadikin ( tidak dijumpai masa kepemimpinannya )
3. R. Otto Iskandar Dinata (tidak dijumpai masa kepemimpinannya )
4. A. Munadi ( 1949 )
5. Dr. Ishak Surjakusumah ( 1949 )
6. R. Soendoro ( 1950 )
7. R. Ibrahim Iskandar ( 1956- 1958 )
8. R. Ating Prawirasastra ( 1958- 1960 )
9. K. Komarawinata ( 1961- 1963 )
10. Kol. Adella ( 1963- 1965 )
11. Kol. D. Hanfiah ( 1965- 1972 )
12. R. Otje Djundjunan ( 1972- 1979 )
13. Solihin GP ( 1979- 1985 )
14. H. Ateng Wahyudi ( 1985- 1993 )
15. H. Wahyu Hamijaya ( 1994- 1998 )
16. Aa Tarmana ( 1998- 2002 )
17. H. Dada Rosada, S.H., M.Si. ( 2002 – 2006 )


Jagalah Persibku

Desember 3, 2007

Putaran kedua Liga Indonesia tahun 2007 membawa mimpi buruk buat semua bobotoh, bagaimana tidak selama putaran kedua ini siliwangi serasa menjadi rumah yang angker bagi sang maung bandung!rasanya kejayaan masa lalu persib tinggalah kenangan???nyek nyobe digadaikan, iurie sudah pergi, bekamenga tak kembali, mungkingahsang maung akan mengaum tanpa mereka???